CFO India semakin mengandalkan AI: 85% melihat peningkatan prospek bisnis

27 Agustus 202636 tampilan

Hampir sembilan dari sepuluh pemimpin keuangan di India menilai masa depan perusahaan lebih optimis dibandingkan enam bulan lalu. Sementara itu, hanya 64% yang yakin mencapai tujuan mereka, dan AI sudah memberikan manfaat terukur bagi 45% organisasi.

CFO India semakin mengandalkan AI: 85% melihat peningkatan prospek bisnis

Para CFO India melihat cahaya di ujung terowongan: survei Grant Thornton Bharat

Edisi perdana studi India Finance Leaders Barometer, yang disusun oleh Grant Thornton Bharat, terbit pada 19 Agustus 2026. Para penulis mensurvei 149 direktur keuangan dan eksekutif keuangan senior dari berbagai sektor ekonomi. Hasilnya, mayoritas besar responden — 85% — memandang masa depan terdekat dengan optimisme, bahkan jauh lebih optimis dibandingkan enam bulan lalu. Data ini menunjukkan bahwa para pemimpin keuangan India mengharapkan penguatan aktivitas bisnis dan siap memanfaatkan peluang baru.

Angka-angka kunci: AI sudah membuahkan hasil

Hampir separuh responden (45%) menyatakan bahwa inisiatif kecerdasan buatan sudah memberikan hasil yang terukur. Terlebih lagi, hal ini tidak harus didukung oleh fondasi teknologi yang sempurna: 68% fungsi keuangan menggambarkan lingkungan mereka sebagai modern atau berkembang. Ini berarti AI tidak hanya diadopsi oleh perusahaan-perusahaan pionir yang maju, tetapi juga oleh organisasi yang berada di tengah perjalanan digital mereka.

Ringkasan indikator utama:

  • 85% — proporsi CFO dengan proyeksi bisnis yang membaik dalam enam bulan;
  • 68% — memiliki infrastruktur TI modern atau berkembang;
  • 45% — sudah memperoleh manfaat terukur dari AI;
  • 64% — yakin mencapai target keuangan yang ditetapkan;
  • 55,7% — menilai perusahaan mereka hanya siap sebagian menghadapi tantangan ke depan.

Kepercayaan pada kemampuan sendiri juga tinggi: hampir dua pertiga (64%) peserta survei yakin akan mencapai target keuangan yang ditetapkan. Namun, optimisme tidak berarti kecerobohan — lebih dari separuh (55,7%) mengakui bahwa organisasi mereka hanya siap sebagian menghadapi tantangan ke depan. Ini adalah sinyal penting bagi para pemimpin: investasi dalam teknologi dan penataan ulang proses perlu dipercepat.

Pertumbuhan: moderat atau agresif?

Tidak ada keseragaman dalam rencana jangka pendek. 37% perusahaan menargetkan pertumbuhan organik moderat — yaitu lebih memilih pengembangan bertahap di pasar yang sudah ada. Sedikit lebih sedikit, 29%, siap melakukan ekspansi agresif, kemungkinan dengan merger aktif dan masuk ke arah baru. Sisanya, tampaknya, memilih strategi antara atau lainnya.

Menariknya, transformasi bisnis, teknologi, dan kecerdasan buatan masuk dalam daftar pendorong pertumbuhan utama bagi satu dari empat pemimpin keuangan. Ini menunjukkan pergeseran prioritas: CFO semakin memandang AI bukan sebagai topik yang sedang tren, melainkan sebagai alat kerja untuk meningkatkan efisiensi dan keunggulan kompetitif.

Pilihan antara skenario moderat dan agresif sangat bergantung pada ketersediaan modal, kondisi infrastruktur digital, dan kesiapan manajemen mengambil risiko. Teknologi, terutama AI, membantu mengurangi ketidakpastian: teknologi memberikan proyeksi yang lebih akurat dan memungkinkan respons yang lebih cepat terhadap perubahan pasar. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa mereka yang sudah memperoleh hasil pertama dari AI lebih sering memilih target yang lebih berani.

Peran CFO melampaui keuangan

Partner dan pemimpin praktik CFO Advisory di Grant Thornton Bharat Karan Marva menekankan bahwa dalam dekade terakhir fungsi direktur keuangan telah berubah secara radikal. CFO modern bukan sekadar penjaga anggaran dan pelaporan, melainkan seorang strategis yang memengaruhi arah pengembangan seluruh perusahaan. Untuk memanfaatkan potensi ini, organisasi perlu menata ulang struktur keuangan, membebaskan para pemimpin dari proses rutin dan memungkinkan mereka fokus pada pengambilan keputusan.

Kata-kata ini selaras dengan angka survei: jika 85% CFO melihat peningkatan prospek, dan 45% sudah memperoleh manfaat dari AI, berarti transformasi teknologi bukan masa depan, melainkan masa kini. Pertanyaannya hanya seberapa cepat perusahaan mampu mengadaptasi proses internal mereka terhadap realitas baru.

Apa selanjutnya?

Survei India Finance Leaders Barometer bersifat berkala, dan hasil pertamanya menetapkan standar yang tinggi. Namun, sinyal mengkhawatirkan tentang kesiapan sebagian dari lebih dari separuh responden mengingatkan: potensi AI hanya terungkap melalui perubahan sistemik. Para direktur keuangan harus menemukan keseimbangan antara optimisme dan persiapan nyata menghadapi tantangan, baik itu kekurangan tenaga kerja terampil, proses yang usang, atau kebutuhan untuk menskalakan inisiatif.

Bagi pasar India, yang secara tradisional dianggap sebagai salah satu yang paling dinamis, hasil seperti ini dapat menjadi katalisator untuk percepatan peninjauan ulang peran fungsi keuangan. Investor dan pemegang saham perlu mencermati bagaimana CFO mengubah ambisi mereka menjadi indikator konkret.

Diharapkan gelombang penelitian berikutnya akan menunjukkan seberapa berkelanjutan tren yang mulai terlihat ini. Jika proporsi CFO yang memperoleh manfaat terukur dari AI tumbuh secepat optimisme mereka, India dapat menjadi salah satu pemimpin global dalam penerapan kecerdasan buatan di bidang keuangan korporasi.

Dan meskipun indeks dan barometer baru terus bermunculan, survei khusus ini menonjol karena mengukur perubahan pola pikir: dari manajemen yang hati-hati menuju pertumbuhan proaktif dengan bantuan teknologi. Bagaimana gelombang penelitian berikutnya akan menunjukkan, waktu yang akan menjawab, tetapi data awal sudah memberikan alasan untuk optimisme yang terkendali.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

CFO India semakin mengandalkan AI: 85% melihat peningkatan prospek bisnis